Thursday, September 29, 2005

Pokok-Pokok Ajaran Plato, Aristoteles, Epikuros, dan Zenon

Plato
Ajaran tentang ide-ide merupakan inti dasar seluruh filsafat Plato. Menurut Plato realitas seluruhnya terdiri dari dua “dunia”, yaitu dunia idea dan dunia indrawi. Dunia idea adalah dunia yang bisa kita pikirkan. Dunia ini tidak tampak, tetapi nyata, otonom, singular dan merupakan realitas yang lebih tinggi daripada dunia indrawi. Dunia indrawi ini adalah dunia yang bisa dilihat. Dunia kedua ini lebih rendah daripada dunia idea, tergantung pada dunia idea, tidak nyata, banyak dan berubah-ubah. Dunia idea adalah “ada” (being), sedangkan dunia indrawi adalah “menjadi” (becoming). Pandangan Plato tentang tatanan ada ini mengingatkan kita pada dua orang filsuf prasokratik, yakni Parmenides dan Herakleitos. Yang pertama memandang realitas itu permanen, sedangkan yang terakhir berubah-ubah. Plato dalam hal ini mendamaikan kedua filsuf itu dengan ajarannya yang utuh tentang dua dunia.

Plato membagi diri manusia menjadi jiwa dan tubuh. Jiwa adalah bagian logistikon atau rasio mampu menghasilkan episteme atau pengetahuan. Letaknya di kepala. Hasrat tubuh sebagai bagian apetitif, yakni nafsu merupakan bagian terendah yang letaknya dari perut ke bawah selangkangan. Bagian ini tidak mengandung akal dan menjadi obyek doxa.

Aristoteles

Aristoteles merupakan murid Plato yang sangat menghormati kecerdasan Plato, dan dia merasa berhutang budi kepadanya. Namun demikian, Aristoteles pada akhirnya meninggalkan ajaran gurunya dan menolak ajaran Plato yang paling mendasar mengenai “dua dunia”. Menurutnya hanya ada satu dunia, yaitu dunia dimana kita hidup sekarang ini. Menurutnya, inilah dunia yang selalu menumbuhkan rasa takjub dan heran. Untuk itu, inilah dunia yang selalu menyebabkan manusia berfilsafat untuk mengetahui dan memahaminya.

Aristoteles terkenal dengan ajarannya tentang logika. Dengan logika, manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup asalkan juga melakukan kegiatan yang melibatkan rasionya. Dengan begitu, kehidupan manusia terlaksana dalam dua pola kehidupan, yaitu theoria: kegiatan untuk merenungkan realitas dan praxis: tindakan yang dilakukan karena memang dikehendaki dan dilakukan dengan senang. Menurutnya, praxis yang benar adalah jika manusia dapat menjalankan keutamaan, yang disebut dengan keutamaan etis. Keutamaan etis dapat tercapai jika manusia dapat mengambil jalan tengah di antara dua ekstrem sehingga dapat tercapai sebuah harmoni/ keseimbangan.


Epikuros
Epikuros adalah penganut faham liberal humanis pertama. Berbeda dari filsof pada masanya, ia adalah seorang materialistik, pemuja kenikmatan dan tidak religius. Ia adalah filsuf pertama yang berpikir intelektual murni. Ajaran intinya adalah agar manusia membebaskan diri dari rasa takut. Pada jaman di mana hidup serba tak menentu dan selalu terancam marabahaya seperti ini, seharusnya manusia mencari kebahagiaan dan kecukupan hidupnya saja.

Kebahagiaan hidup menurut ajaran Epikuros dapat tercapai jika manusia dapat merasakan kenikmatan hidup. Namun, menurutnya, ketenangan jiwa merupakan kenikmatan yang lebih penting dan merupakan kenikmatan jangka panjang. Untuk mencapai kenikmatan ini, manusia perlu menyingkirkan rasa takut terhadap para dewa dan kematian. Epikuros berpendapat bahwa tidak ada satu alasan pun untuk takut pada dewa karena para dewa sama sekali tidak ikut campur dalam urusan manusia. Rasa takut pada kematian juga tidak beralasan karena ketika seseorang mati, secara otomatis ia akan secara total kehilangan kemampuan untuk merasakan sesuatu, baik itu rasa gelisah ataupun rasa sakit.

Zenon
Zenon merupakan pendiri aliran filsafat kaum Stoa. Menurut Zenon, manusia akan mencapai kebahagiaan jika menuruti suratan takdir atau hukum alam, senang atau tidak senang. Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan dan takdir alam. Alam sendiri diatur oleh prinsip-prinsip yang sangat rasional dan cerdas yaitu logos. Manusia sendiri merupakan bagian dari alam. Menurut Zenon, manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan alam baginya. Dengan demikian, ia akan mencapai harmoni dengan alam yang akan membawanya kepada kebahagiaan (eudaimonia). Kalaupun manusia mencoba melawan hokum alam, usahanya akan sia-sia dan akibatnya ia akan susah sendiri. Dengan kata lain, manusia hidup untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan oleh takdir alam. Namun, jika manusia tidak dapat memenuhi kewajibannya di dunia, kaum Stoa memilih untuk bunuh diri.

Berdasarkan pengertian tentang keharusan mutlak hukum alam inilah, Zenon merancang ajaran etika. Ajaran etis ini mengajarkan bahwa kita hendaknya melakukan kewajiban kita demi kewajiban itu sendiri, bukan demi perasaan nikmat atau susah dan bukan demi ganjaran entah di sini atau di surga. Ajaran ini memberikan fundamen kuat bagi berdirinya etika kewajiban-otonom yang diajarkan oleh Kant.

2 Comments:

Blogger Lou said...

Microsoft Sues Software Resellers
The company has filed suits in Arizona, California, Illinois, Minnesota and New York against the privately held companies who allegedly sold counterfeit copies of such software products as Office 2000 ...
I'm not sure I completely understand... but that's cool. I like reading your posts. Keep up the great work. I have a dish network satellite tv site that focused on dish network satellite tv related topics. Come by some time to check it out.

12:19 AM  
Blogger ruthirda said...

gak jelass

7:39 AM  

Post a Comment

<< Home